Resensi

Beauty and The Beast : Kisah Princess Belle yang Mampu Mengekspresikan Keberanian dan Kepintarannya.

Judul : Beauty and The Beast

Pemain : Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Klein, dll.

Sutradara : Bill Condon

bntbtrip.jpg

Kisah Beauty and The Beast berawal dari cerita seorang pangeran muda (Dan Steven) dan tampan yang gemar menyelenggarakan pesta mewah di istananya yang besar. Pangeran itu terkenal tamak dan tidak baik hati. Dia memungut pajak yang tinggi dari rakyatnya agar dia bisa memenuhi istanya dengan barang-barang mewah dan tentu saja agar dia bias menggelar pesta besar-besaran.

Suatu malam saat sebuah pesta digelar, istana itu dipenuhi dengan para pelayan istana dan tamu-tamu yang diundang, para tamu disuguhi makanan lezat, pertunjukan tari yang menawan, dan pertunjukan orkestra. Tanpa disangka datanglah seorang perempuan renta bernama Agathe (Hattie Morahan) yang meminta perlindungan sang pangeran dari badai yang saat itu sedang melanda daerah itu. Sebagai imbalan, Agathe memberi sang pangeran sekuntum bunga mawar merah. Namun, Pangeran itu justru malah mengusir Agathe.

Agathe tiba-tiba menjadi murka dan berubah menjadi sosok perempuan cantik yang ternyata seorang penyihir. Dia mengutuk Sang Pangeran menjadi Beast atau si buruk rupa. Bukan hanya itu, seluruh pelayan istana dan para tamu pun ikut dikutuk menjadi perabotan-perabotan istana. Seluruh rakyat kerajaan tersebut yang tinggal di luar istana pun dimantrai Agathe agar tidak dapat lagi mengingat keberadaan istana beserta orang-orang yang tinggal di dalamnya. Kutukan Agathe dapat dipunahkan asalkan suatu saat akan ada seorang perempuan yang benar-benar mencintai Sang Pangeran. Mawar Merah yang dibawa Agathe merupakan Mawar Merah ajaib yang tidak mudah layu. Asalkan kelopak terakhir belum layu, maka masih ada kesempatan bagi Sang Pangeran untuk menemukan cinta sejatinya.

Sementara itu di luar istana, hiduplah Belle (Emma Watson) seorang gadis cantik yang pintar dan pemberani. Belle tidak disukai oleh masyarakat di desanya sebab Belle dianggap aneh hanya karena gemar membaca buku dan bertualang. Pada masa itu, tidak ada perempuan yang bisa membaca selain Belle. Kepintaran Belle rupanya menarik hati Gaston (Luke Evans), seorang pemuda desa yang juga mantan prajurit. Gaston tidak putus asa mengejar Belle namun Belle tidak menerima pinangan Gaston karena Gaston adalah orang yang terlalu narsis dan tidak menghargai perempuan.

Belle tinggal bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), sementara ibunya sudah lama meninggal sejak Belle bayi. Suatu ketika ayah Belle hendak pergi kota mengendarai kudanya. Dalam perjalanan ke kota, Maurice secara misterius tersesat di hutan dan tiba di kastil Beast. Maurice menyadari kejanggalan istana itu karena beberapa perabotan dilihatnya bisa berbicara. Maurice cepat-cepat keluar dari istana itu, namun sebelum meninggalkan gerbang istana, Maurice menyempatkan diri untuk memetik setangkai mawar yang rencananya akan dihadiahkannya untuk Belle. Ulahnya tersebut tertangkap basah oleh Beast yang mengurung Maurice di salah satu menara di istananya. Kuda Maurice berhasil lolos dan menemukan jalan pulang.

Keesokan harinya Belle mendapati kuda ayahnya pulang tanpa si empunya. Belle memerintahkan kuda itu untuk membawanya ke tempat ayahnya berada. Saat ia bertemu ayahnya dan Beast, Belle memohon agar ayahnya dibebaskan dan sebagai gantinya ia akan menjadi tawanan Beast. Maurice pun dibebaskan dan kembali ke desa untuk meminta pertolongan.

Di istana tersebut Belle merasakan ada hal-hal aneh terjadi. Ia dilepaskan dari penjara dan diberi kamar oleh perabotan lilin bernama Lumiere (Ewan McGregor) dan jam antik bernama Cogsworth (Ian McKellen). Belle didandani dan dipakaikan baju-baju yang indah oleh lemari tua bernama Madame de  Garderobe (Audra McDonald) dan perabotan berbentuk burung bernama Plumette (Gugu Mbatha-Raw). Selain itu, Belle juga disuguhi makanan-makanan lezat oleh teko teh bernama Mr Potts (Emma Thompson) dan cangkir teh bernama Chip (Nathan Mack) yang rupanya anak Mrs Potts.

Mulanya Beast marah besar saat mengetahui para pelayannya – yang kini berubah menjadi perabotan – melayani Belle dengan baik. Mrs Potts menasihati Beast bahwa mungkin saja Belle adalah orang yang bisa memunahkan kutukan Agathe atas mereka semua yang berada di istana itu. Mrs Potts mempersuasi Beast agar membuat Belle jatuh cinta kepada Beast. Waktu berlalu, perilaku Beast kian membuat Belle ketakutan sehingga pada suatu malam Belle melarikan diri dari istana. Dalam pelariannya itu, Belle sempat hampir menjadi mangsa serigala namun Beast menyelamatkannya. Dalam upaya penyelamatan itu, Beast tergigit serigala. Belle pun merasa berutang budi dan akhirnya kembali ke istana untuk merawat Beast.

Saat Beast sakit, para pelayan istana menceritakan tentang kisah yang menimpa mereka dan arti bunga mawar merah yang dijaga Beast di dalam kaca selama ini. Belle menjadi jatuh iba terhadap Beast. Hari-hari pun berlalu, Belle mengenal sosok Beast sebagai orang yang baik hati dan pandai. Mereka gemar berlama-lama berdiskusi akan beragam hal hingga sedikit demi sedikit tumbuh rasa di hati Belle.

Sementara itu saat Maurice tiba di desanya, ia segera meminta tolong agar siapa saja bisa membantunya untuk menyelamatkan Belle dari penjara Beast. Gaston yang sejak semula naksir Belle bersikap ksatria dengan menawarkan bantuan kepada Maurice dengan dibantu asistennya, LeFou (Josh Gad). Namun di tengah perjalanan Maurice putus asa karena jalan menuju istana Beast kini telah tertutup. Gaston menganggap Maurice gila dan meninggalkan Maurice dengan tubuh terikat di pohon agar dimakan serigala. Gaston pulang ke desanya dengan tujuan untuk memberitakan hilangnya Maurice. Ternyata tanpa disangka Maurice telah kembali ke desa itu berkat bantuan Agathe. Ia menceritakan kejahatan Gaston kepada masyarakat desa namun karena Gaston pandai bersilat lidah, ia berhasil meyakinkan penduduk desa bahwa Maurice sudah tidak waras dan segala ceritanya tentang istana tersembunyi yang dihuni Beast dan perabotan-perabotan yang mampu bicara adalah bukti ketidakwarasannya.

Belle yang pada saat bersamaan sedang berdansa dengan Beast merasa rindu kepada ayahnya. Beast meminjamkan cermin ajaibnya yang mampu melihat secara langsung apa yang sedang Maurice lakukan saat itu. Belle mendapati ayahnya sedang disiksa. Beast pun mengijinkan Belle pergi dari istana untuk menolong Maurice dan Beast menyuruh Belle membawa cermin ajaibnya agar sewaktu-waktu apabila Belle rindu kepada Beast, Belle bisa melihat ke cermin itu.

Sesampainya Belle di desa, Belle berusaha meyakinkan penduduk desa bahwa ayahnya tidak gila dan apa yang diceritakan ayahnya soal istana tersembunyi yang dihuni Beast benar adanya. Sebagai bukti, ia menunjukkan keberadaan Beast melalui cermin ajaib. Kesempatan itu digunakan Gaston untuk menghasut penduduk desa agar menyerang istana Beast. Maka penduduk desa berbondong-bondong ke istana Beast untuk melakukan penyerangan.

Singkat cerita, penduduk desa kalah berhadapan dengan perabotan-perabotan ajaib istana dan Gaston dikalahkan oleh Beast. Helai mawar terakhir hampir musnah saat Belle mengucapkan “I love you” kepada Beast. Namun berkat kebaikan hati Agathe yang saat itu juga hadir di dalam istana, Beast pun berubah wujud kembali menjadi Sang Pangeran tampan.

Seperti cerita beberapa cerita Disney – sebut saja Sleeping Beauty, Snow White, Tangled, dan lain-lain – perbuatan jahat pasti akan mendapatkan ganjarannya dan kutukan dapat dikalahkan dengan kekuatan cinta.

Emma Watson cukup berhasil memerankan tokoh Belle, meski pada permulaan film Watson terlihat sedikit kaku dalam menampilkan sisi musikal. Namun, ia mampu membangun karakter Belle sebagai perempuan pintar, pemberani, dan bisa membuat keputusan sendiri. Watson mengakui bahwa karakter ini memang sangat cocok dengan kepribadiannya. Itu pulalah alasan yang menyebabkan Watson menolak peran Cinderella dan lebih memilih peran Belle. Kepiwaian Watson dalam seni peran tidak perlu diragukan lagi. Seperti diketahui,  ini bukan kali pertama Watson bermain di gilm yang bergenre fantasi. Watson sukses menghidupkan sosok Hermione Granger di seri Harry Potter yang juga memiliki kepribadian yang hampir mirip dengan Belle.

Pemeran lain yang sukses menghidupkan film ini adalah Luke Evans sebagai pemeran Gaston. Evans terlihat sangat menjiwai karakter Gaston dan memainkan bagian musikal di film ini dengan sangat baik sehingga mampu menutupi kekakuan Watson dalam memainkan bagian musikal di awal film. Luke Evans sudah beberapa kali mampu memerankan tokoh-tokoh di beberapa film fantasi, sebut saja Clash of The Titans (2010), The Hobbit series (2012 – 2014), dan Dracula Untold (2014).

Sang sutradara, Bill Condon, selama ini dikenal karena banyak film-film yang disutradarainya bergenre misteri, kriminal, horror, dan thriller, seperti  Murder 101 (1991), Candyman : Farewell to Flesh (1995), The Who Wouldn’t Die (1995), The Fifth Estate (2013), dan Mr. Holmes (2015). Dengan pengalamannya menggarap film-film bengere “gelap” tersebut, Condon mampu menghidupkan suasana menegangkan saat pertama kali para tokoh – Maurice dan Belle – memasuki istana Beast. Sementara itu untuk sisi musikal, film ini bukan kali pertama Condon menciptakan film musikal, sebelumnya ia pernah menyutradarai Dreamgirls (2006). Dan untuk pengalamannya di film fastasi, sebelum Beauty and The Beast, Condon sukses menggarap The Twilight Saga : Breaking Dawn Part 1 & 2.

Selain Emma Watson, Luke Evans, dan Dan Stevens, sutradara Beauty and The Beast ini menggandeng banyak pemain film kawakan dan cukup ternama; Sir Ian McKellen, Emma Thompson, Ewan McGregor, dan lain-lain. Bill Condon diketahui bukan kali pertama bekerja bersama Sir Ian McKellen karena sebelumnya mereka pernah terlibat dalam film Gods and Monster (1998) dan Mr Holmes (2015).

Beauty and The Beast dikategorikan sebagai dark musical fantasy movie. Oleh karena itu, film ini sebenarnya tidak cocok untuk anak-anak. Sangat disarankan agar pada saat menonton, anak-anak didampingi orang tua. Film ini mendapatkan kritik karena menampilkan unsur-unsur LGBT di dalamnya. Sebut saja LeFou yang terlihat seperti sangat naksir berat kepada majikannya, Gaston. Selain itu, di akhir cerita saat istana diserang oleh masyarakat desa, terdapat adegan three musketeers didandani menjadi perempuan oleh Madame de Garderobe, namun salah satu dari mereka justru senang didandani menjadi perempuan. Kemudian setelah LeFou mengetahui sifat jahat Gaston, ia segera berpaling dari Gaston dan terlihat bermain mata dengan salah satu anggota three musketeers tadi.

Sutradara Bill Condon menegaskan bahwa ia bukan secara khusus ingin menampilkan LGBT di film ini, melainkan menampilkan kemerdekaan berekspresi. Menurutnya, di dalam film ini terdapat kemerdekaan berekspresi Belle yang berani tampil berbeda daripada perempuan-perempuan di zamannya. Selain itu, Condon juga menampilkan perkawinan interasial – yang di dunia ini masih jarang dilakukan – antara tokoh berkulit putih dan tokoh berkulit gelap, seperti Lumiere dan Plumtte, serta Madame de Garderobe dan Maestro Cadenza (Stanley Tucci).

Salah satu nilai plus film ini selain mengusung nilai-nilai “perbuatan jahat pasti akan mendapatkan ganjarannya dan hal-hal sulit dapat dikalahkan dengan kekuatan cinta” serta kemerdekaan berekspresi, Condon menampilkan adegan yang mana tidak terdapat di versi kartunnya, yakni saat Beast membawa Belle ke Paris untuk mengetahui masa lalunya. Di situ Belle memahami bahwa ibunya sakit karena tertular wabah mematikan dan Maurice terpaksa membawa Belle bayi pergi dari rumah itu agar tidak terkena wabah juga.

Secara keseluruhan film ini layak ditonton. Produk-produk animasinya – Beast, Madame de Garderobe, Lumiere, Plumette, Mrs Potts, Chip, Cogworth, dan lain sebagainya – digambarkan jauh lebih bagus daripada versi kartunnya. Selain tema ceritanya dan karakter princess yang sedikit berbeda dari cerita Disney lainnya, penonton akan dimanjakan oleh pemandangan latar cerita yang sungguh sangat indah dan menarik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s